Tips

3 Tips Terbaik untuk Menghadapi Anak Pemarah

Semua anak — layaknya kita sebagai manusia — pasti akan merasakan marah. Ketika merasa terancam, ada 3 insting yang akan muncul sebagai respon: menyerang, melarikan diri, atau diam. Marah adalah respon tubuh dengan bentuk “menyerang”. 

Meski begitu, manusia tidak hanya merasakan marah sebagai respon pada faktor dari luar. Ketika sesuatu terjadi hari ini yang mungkin mengingatkan kita pada sesuatu yang mengecewakan di masa lalu, kita juga akan cenderung marah sebagai sistem pertahanan — meskipun ancaman yang terjadi bisa dikatakan tidak sama sekali mengancam.

anak kecil

Itulah mengapa sebagai orang tua, amarahnya mudah tersulut ketika anak kita mulai membandel. Kita juga cenderung merasakan marah sebagai usaha untuk menjaga keseimbangan. Jadi, ketika rasa takut, luka, kekecewaan, sakit atau sedih tidak dapat dibendung, reaksi yang muncul adalah marah.

Marah mungkin tidak akan menghilangkan rasa sakit tapi setidaknya akan membuat kita merasa lebih kuat dan membantu rasa sakitnya tidak terlalu terasa untuk sementara. Ini menjelaskan rasa marah yang muncul ketika kita kehilangan seseorang yang dicintai.

Amarah Pada Anak

Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun merasakan hal yang serupa. Dan karena anak kecil tidak punya cukup konteks untuk kemarahan mereka, sedikit rasa kekecewaan terasa seperti akhir dari dunianya. Lebih buruk lagi, karena korteks depan mereka belum berkembang sempurna untuk membantu mengatur emosi, anak-anak lebih cenderung eksplosif ketika mereka marah.

amarah pada anak

Terkadang sikap menyerang tampak sangat wajar ketika kita diliputi amarah, tapi hanya ketika memang ada ancaman yang serius dan hal ini sangat jarang terjadi. Di banyak kesempatan ketika anak marah, mereka ingin menyerang adik mereka (ketika berebut mainan), orang tua mereka (yang mendisiplinkannya dengan cara yang “buruk”), guru mereka (yang mempermalukan mereka) atau anak nakal di sekolah mereka (yang membuat mereka takut).

Beruntungnya, seiring berkembangnya otak anak, mereka juga memperoleh kepasitas untuk menahan amarah dan mengatur emosi mereka secara konstruktif — tentu saja jika mereka diberikan contoh yang baik bagaimana cara melepaskan emosi yang baik Jadi, bagaimana cara mengatur emosi yang konstruktif untuk anak? Berikut adalah beberapa tips yang bisa diterapkan ketika menghadapi anak yang marah (tips ini juga bisa diterapkan pada orang dewasa).

 

  • Mengatur Impuls Agresif

 

Ketika orang tua menerima dan berempati pada emosi sang anak, maka anak akan belajar bahwa emosi tidaklah berbahaya dan bisa dirasakan — tanpa harus melakukan tindakan yang sembrono. Ketika kita menerima kemarahan mereka dan tetap tenang, anak akan mengembangkan sistem di otak mereka dengan mempelajari skill emosional untuk menenangkan diri mereka sendiri dan mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan, tanpa harus menyakiti orang lain atau merusak sesuatu.

agresif

 

  • Cari Tahu yang Sebenarnya Mereka Rasakan

 

Jika kamu bisa tetap tenang dan mencari tahu apa yang sebenarnya membuat anak-anak marah, lambat laun kemarahan mereka akan reda. Hal ini akan membantu mereka untuk merasa cukup aman untuk mengetahui perasaan yang lebih mendalam yang memicu kemarahan mereka.

Saat anak diajarkan untuk melewati rasa sedihnya karena mainan yang rusak atau ketakutannya menghadapi suasana yang baru, maka perasaan itu akan mulai terobati. Dan seiring dengan perasaan negatif yang hilang, maka mereka tidak perlu lagi kemarahan untuk mempertahankan diri mereka — artinya kemarahan juga hilang.

 

  • Penyelesaian Masalah yang Konstruktif

masalha ank

 

Pada akhirnya, tujuan utama dari semua ini adalah untuk mendorong anak-anak menggunakan kemarahan mereka sebagai motivasi untuk mengubah sesuatu yang harus diubah agar situasi tersebut tidak akan terulang kembali. Hal ini termasuk menjauhkan mainan kesayangannya jauh dari jangkauan adiknya, atau mencari pertolongan orang tua untuk menghadapi teman yang nakal.

Termasuk dengan memberitahukan peran mereka pada penyelesaian masalah yang ada, jadi mereka belajar untuk melakukan tugas yang lebih baik dengan mengikuti apa yang orang tua mereka ajarkan, atau untuk datang ke kelas dengan persiapan yang lebih baik.

Anak Kecanduan Gadget? Ini Dia 7 Tips Mengatur Penggunaan Gadget Pada Anak

Sekarang semuanya serba teknologi, begitu pula dengan mainan anak. Banyak anak sudah mengenal dan memainkan gadget, bahkan ada yang sampai kecanduan. Saat anak sudah kecanduan gadget, Anda sebagai orang tua pasti bingung mengatasinya bukan?

Nah jika anak Anda susah dipisahkan dengan gadget, tips mengatur anak dan gadgetnya berikut mungkin bisa membantu. Apa saja tips yang dimaksud? Simak penjelasan berikut.

Tips Mengatur Anak dan Gadgetnya

  1. Memberi batasan waktu pada anak

anak anak boleh maen gadget

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjauhkan atau membatasi anak dari gadget. Awalnya mungkin akan terasa sulit karena anak selalu merengek dan jika anak masih balita, anak pasti menangis. Anda juga menjadi tidak tega melihatnya. Namun Anda tidak boleh goyah, tetap teguhkan hati Anda dan berpikir positiflah bahwa yang Anda lakukan juga demi kebaikan sang buah hati.

Pembatasan waktu anak bermain gadget bisa dilakukan secara bertahap. Misal minggu pertama anak masih diperbolehkan bermain gadget selama 3 jam per hari. Jika berhasil, maka minggu selanjutnya dikurangi waktu bermainnya, misal menjadi dua jam per hari. Begitu selanjutnya sampai anak tidak kecanduan gadget lagi.

  1. Memberi syarat jika anak ingin bermain gadget

Cara pertama mungkin akan berhasil jika anak diberi syarat saat ingin memainkan gadget. Syaratnya usahakan berhubungan dengan hal baik tapi tidak disukai anak, seperti belajar, menghafal, atau membantu orang tua.

memberi batasn pada anak

Contoh penerapannya begini, Anda mengambil gadget anak dan menyembunyikannya. Katakanlah pada mereka jika Anda akan memberikan serta memperbolehkan anak bermain gadget saat mereka sudah belajar.

  1. Memberi reward pada anak

Jika anak tetap susah berpisah dari gadget, maka Anda bisa melakukan tips selanjutnya, yaitu memberi reward pada anak. Anda bisa menjanjikan sesuatu yang mereka inginkan dengan syarat si anak mengurangi kebiasaan bermain gadget. Namun jangan terlalu memanjakan juga, turuti keinginan yang masuk akal dan bermanfaat saja. Anda harus pintar-pintar mengendalikan mereka.

  1. Meluangkan waktu untuk anak

memberi reward pada anak

Ketiga tips sebelumnya mungkin tidak akan berhasil jika Anda sibuk dengan diri Anda. Anak sangat membutuhkan perhatian dari orang tua, jadi Anda harus meluangkan waktu untuk anak Anda.

Sebenarnya faktor utama anak melarikan diri pada gadget atau suka bermain gadget adalah karena tidak ada hal menarik di sekitar mereka. Mereka bosan sehingga saat gadget hadir dengan segala kelebihannya, mereka langsung jatuh cinta dan tidak ingin dipisahkan.

Nah, jika Anda berada di sekitar mereka dan melakukan hal menarik bersama mereka, mereka pasti akan melupakan gadget bukan? Banyak hal menarik yang bisa Anda lakukan bersama anak seperti mengenalkan mereka dengan lingkungan, mengajak mereka jalan-jalan, mengasah keterampilan mereka, dan lain sebagainya.

  1. Memberi mainan alternatif

mrmbrti mainan pada anak

Anda juga bisa memberikan mainan alternatif pada anak. Permainan yang Anda berikan harus menarik, bermanfaat, dan tidak hanya satu. Namun tips ini memerlukan banyak dana karena permainan yang diberikan tidak hanya satu. Kenapa tidak hanya satu? Karena anak mudah bosan, jadi mereka pasti akan kembali pada gadget jika sudah bosan dengan permainan barunya.

  1. Mengajak anak bersosialisasi dengan teman sebayanya

Selain untuk mengurangi intensitas anak bermain gadget, bertemu dengan teman sebaya ini juga bisa melatih anak dalam bersosialisasi. Anak pasti juga akan senang jika bertemu teman yang seusianya.

  1. Membatasi penggunaan paket data internet

Jika anak suka bermain gadget karena game online, sosial media, atau hal yang berhubungan dengan online lainnya, maka membatasi penggunaan paket data internet pada anak bisa menjadi salah satu solusinya.

Demikian tadi beberapa tips mengatur penggunaan gadget pada anak. Semoga anak Anda tidak kecanduan gadget lagi.

Tips Menghadapi Anak yang Sering Bertengkar Dengan Temannya

Masa anak-anak adalah masa yang paling unik dimana semua emosi dan perasaan hati bisa ditunjukkan. Ketika marah, sedih, kecewa, tidak suka dan seterusnya bisa diperlihatkan dengan tindakan apa saja. Pelampiasanya juga beragam.  Mulai tidak mau makan, tidak mau bicara, melempar barang-barang, hingga bertengkar dengan teman.

Khusus untuk yang bertengkar dengan teman, tentu sangat tidak baik untuk masa depan anak. Selain anak akan melukai perasaan anak lain, bertengkar dengan teman sebaya juga menyebabkan anak kehilangan teman dan juga kepercayaan temanya. Hingga pada akhirnya anak akan dijauhi temanya dan kehilangan satu persatu anak. Semakin kehilangan teman, anak akan semakin mudah bertengkar. Untuk itu perlu penanganan khusus untuk menyelesaikan anak yang mudah bertengkar dengan teman.

Cara Menghadapi Anak Mudah Bertengkar

Untuk itu, kita sebagai orang tua wajib memberikan penanganan khusus agar anak tidak mudah bertengkar dengan temanya. Beberapa cara yang bisa kita gunakan adalah:

  1. Tingkatkan kemampuan anak dalam menyelesaikan konflik

tingkatkan kecerdasan anak

Pertengkaran anak adalah hal yang biasa. Ajarkan anak untuk memahami hal itu, tetapi imbangi pula dengan bagaimana cara bertengkar yang baik. Bahwa pertengkaran tidak selamanya harus melibatkan fisik dan menyakiti lawan pertengkaran. Perlihatkan anak bagaimana dua orang yang saling berbeda pendapat dan saling bertengkar tetapi tetap bisa saling menghargai, saling tenang, dan saling menahan diri. Perlihatkan ke anak, bahwa pertengkaran bisa dilakukan dengan cara yang baik.

  1. Tidak Ada Perlakuan Kasar

tidak ada perlaluan kasar

Anak memiliki tingkat emosi yang berbeda dengan orang dewasa. Kecenderungan anak adalah mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan. Maka kita sebagai orang tua harus mengajari anak bagaimana mengontrol emosi. Jangan sampai kita juga bersikap seperti anak-anak dengan ikut mengungkapkan apa saja yang ingin kita ungkapkan pada anak.

Bila anak melakukan pertengkaran dengan temannya, jangan langsung marah pada anak. Apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan seperti memukul dan membentak. Bahkan tindakan berteriak atas pertengkaran anak juga sangat tidak dianjurkan. Buatlah janji pada anak untuk tidak melakukan teriakan di rumah. Hal ini akan membuat anak merasa nyaman dengan kita dan membuat suasana jauh lebih cair.

  1. Dengankan Apa Yang Ingin Anak Sampaikan

dengearkan apa kata mereka

Tidak ada hal yang lebih diinginkan anak selain didengarkan. Salah satu alasan terbesar mengapa anak sering melakukan pertangkaran dan perdebatan dengan temanya adalah karena ia tidak bisa menyalurkan keinginanya untuk didengar. Beda bila kita memiliki waktu yang cukup untuk anak. Mendengarkan keinginan anak sambil memberikan perhatian lebih adalah salah satu cara paling ampuh mengatasi anak yang sering bertengkar. Ingat, bahwa anak juga perlu belajar menyampaikan keinginanya tidak dengan cara bertengkar.

  1. Ajari Anak Bersikap Baik

ajarkan anak melihat dua sisi

Cara bersikap baik perlu diajarkan, bukan diperintahkan. Kita sebagai orang tua adalah contoh bagi anak. Jika anak tidak bisa menyampaikan apa keinginanya dengan cara yang baik lalu melakukanya dengan cara pertengkaran dengan teman, bisa jadi kita tidak mengajarkan anak bagaimana menyampaikan pendapatnya pada temanya. Lebih baik, ajari anak cara bagaimana menyampaikan pendapatnya. Ingat, selama menyampaikan pendapat, ajari anak cara yang tidak menyakiti orang lain dan menghina. Ganti semua kata kamu menjadi saya.

  1. Ajarkan Anak Melihat Dua Sisi

Penting bagi anak memahami segala hal memiliki dua sisi. Termasuk juga pendapatnya. Selalu ada pendapat lain yang berbeda dengan apa yang dia inginkan. Buat anak menyadari hal itu. Bimbinglah anak untuk melihat perasaan orang lain atas apa yang ia lakukan. Misalnya anak telah bertengkar, cobalah tanya pada anak: bagaimana perasaan temanmu, lihatlah apa yang telah kamu lakukan padanya, apakah itu baik untuknya, dan seterusnya.